in

Penipuan Prostitusi via MiChat Lolos, Penyebabnya Tak Ada Pria Hidung Belang yang Berani Melapor

POTO : Ilustrasi orang memegang handphone dengan aplikasi Michat (Ist).

jaringinfo.com, KALTIM–Kemajuan teknologi mengubah cara berkomunikasi dan transaksi. Termasuk dalam hal prostitusi. Sudah sejak awal diingatkan penutupan lokalisasi tidak akan berdampak menurunnya aktivitas prostitusi. Mereka hanya berpindah tempat transaksi dan eksekusi.

Beberapa aplikasi berkirim pesan yang sering disalahgunakan untuk melakukan transaksi prostitusi adalah MiChat, Telegram, Beetalk, Tantan, dan Tinder, serta Line. Namun di antara aplikasi tersebut, MiChat menjadi aplikasi yang paling populer di kalangan pria hidung belang, seperti dilansir jaringinfo.com group siberindo.co.

Ditelusuri dari laman aplikasi tersebut di Google Play Store, MiChat dideskripsikan sebagai aplikasi pesan instan gratis. Membuat penggunanya bisa bertemu teman baru atau teman yang ada di kontakmu yang sama-sama telah mengunduh aplikasi ini.

MiChat mempunyai kemampuan mendeteksi orang di sekitar tempat tinggal yang sama-sama menggunakan aplikasi ini. Sehingga kamu bisa mengobrol dengan teman-teman baru di wilayah yang sama.

Di balik kemudahan layanan tersebut, banyak yang menyalahgunakan aplikasi ini. MiChat kini identic dengan prostitusi online. Banyak para penjaja seks menggunakan aplikasi ini untuk mempromosikan dirinya. Mereka menggunakan aplikasi MiChat untuk menjaring calon konsumen untuk bertransaksi.

Bahkan, kasus tipu-tipu yang mengaku sebagai wanita penjaja seks pun ikut mewarnai penggunaan MiChat. Hal ini terungkap saat anggota FKPM Kelurahan Pelita membongkar kasus penipuan berkedok prostitusi online, Jumat (25/12) malam lalu.

Kedua penipu itu adalah Arif Saputra (31), mantan nara pidana (napi) kasus narkotika dan rekanya Azlan Syah (29). Azlan bertugas mengantarkan Arif di hotel kelas melati di kawasan Jalan Merdeka, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang.

Keduanya diamankan setelah sebelumnya terpancing ajakan ngamar oleh salah seorang anggota FKPM, yang sebelumnya kerap menerima laporan penipuan pelayanan esek-esek.

Anggota FKPM yang menyamar pun langsung membuat janji bertemu setelah sebelumnya harga pelayanan disepakati Rp300 ribu untuk sekali booking online (BO).

Saat itu, Arif mengaku orang suruhan mami (muncikari PSK), lantas meminta uang yang disepakati sebagai tanda jadi sebelum bertemu dengan PSK yang diinginkan. Karena modus itu sudah sering digunakan, anggota FKPM itu pun dengan mudah mengamankan Arif dan Azlan yang sedang menunggu di luar hotel.

Hasil pemeriksaan di dalam ponsel Arif, menguak fakta baru. Ternyata benar bahwa akun PSK di MiChat yang digunakan untuk menjebak pria hidung belang itu adalah milik Arif sendiri alias abal-abal. PSK yang ditawarkan itu ternyata bohong belaka dan tidak pernah ada.

Arif dan Azlan dikeler ke Pos FKPM Pelita sebelum akhirnya diserahkan ke Polsek Samarinda Kota guna proses hukum lebih lanjut. Sayangnya proses hukum tak bisa dilanjutan lantaran korbannya tidak ada yang memberi laporan resmi.

Kasus kerugian menggunakan aplikasi MiChat bukan hanya terjadi sekali ini. Pernah juga seorang warga melapor lantaran engaku tertipu setelah membuat janji dengan membayar terlebih dulu dengan seorang wanita di sebuah hotel. Namun saat didatangi ternyata waria,” ungkap Dani sofyan, Anggota FKPM.

Modus yang digunakan Arif menggunakan kesempatan akan banyaknya pria hidung belang yang menghendaki wanita pemuas nafsu di aplikasi MiChat.

Beberapa kasus yang pernah ditangani adalah membayar uang muka atau DP untuk bisa membuat janji. Namun saat ditemui, sang wanita ternyata tidak ada

“Foto wanita cantik yang ada di MiChat dengan status open BO menjadi daya tarik tersendiri. Setelah membuat janji dan deal akan membayar sesuai harga. Korban biasanya akan langsung mentransfer uang tanda jadi yang diminta. Dua kasus yang kami tangani rata-rata menderita kerugian antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta perorang,” ungkap Dani, anggota FKPM Pelita.

“Sebelum kami amankan, Arif melakukan penipuan di salah satu hotel di Imam Bonjol. Korbannya di hotel itu tertipu Rp 400 ribu,” sambung Dani.

Dani dan anggota FKPM lainnya berharap, terungkapnya kasus penipuan menggunakan aplikasi MiChat bisa menjadi pelajaran. Gunakan aplikasi untuk hal yang benar sehingga tidak merugikan diri sendiri.

“Kasus seperti ini memang jarang terungkap. Sebab korban biasanya akan malu jika kasusnya terungkap kepermukaan. Terlebih sampai kelurga tahu akan perilakunya sendiri. Mudahan ini menjadi kasus terakhir kami,” kata Dani. (kis/nha).

 

 

 

Sumber : siberindo.co.

Soal Diciduk Dua Remaja “Parodi” Lagu Kebangsaan, Hendropriyono Bilang Ini Lampu Kuning…!

Sering Digenangi Air, Wali Kota Batam akan Lebarkan Drainase Jalan Protokol